by 7
Di Desa Tanjungsari, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, berdiri sebuah sanggar seni bernama Sanggar Seni Karya Asli. Sanggar ini dikelola oleh Pak Very, seorang pelukis yang menekuni seni lukis tradisional sebagai warisan keluarga. Melalui wawancara dengan beliau, terkuak berbagai kisah tentang seluk-beluk dunia seni lukis mulai dari teknik, kendala, hingga keresahan akan nasib seni lukis tradisional di tengah gempuran teknologi cetak yang serba instan.
Bagi Pak Very, melukis bukan sekadar keterampilan, melainkan warisan keluarga yang diturunkan dari generasi ke generasi dari kakek, ke ayah, lalu kebanyakan ke anak laki-laki mereka. Beliau meneruskan Sanggar Karya Asli sebagai wadah untuk terus berkarya sekaligus melestarikan seni lukis warisan leluhur.
KARYA ASLI YANG BERTAHAN LAMA
Seni lukis yang ditekuni Pak Very menggunakan media kanvas dengan cat minyak yang dikenal tidak mudah luntur sehingga hasilnya tahan lama. Aliran yang digunakan umumnya naturalisme asli, yaitu menggambarkan objek senyata mungkin namun diperindah sedemikian rupa sehingga terlihat lebih hidup dari sekadar tiruan alam.
Keterampilan ini tidak diperoleh dari bangku sekolah formal, melainkan diwariskan secara turun-temurun di dalam keluarga, dan sebagian besar anggota keluarga laki-laki yang meneruskan tradisi tersebut.
RAGAM ALIRAN DALAM SENI LUKIS
Dunia seni lukis mengenal beragam aliran, di antaranya:
Surealisme: memanfaatkan permainan sinar dan bayangan gelap-terang yang dipertajam.
Abstrak: tampak seperti coretan bebas, tetap memiliki gambaran atau makna tersirat.
Naturalisme: aliran yang menggambarkan objek sedekat mungkin dengan wujud aslinya di alam, namun tetap diperindah agar tampak lebih hidup dan estetis; dipelopori oleh pelukis seperti Basoeki Abdullah.
Realisme: diwakili oleh karya-karya seperti lukisan Diponegoro dari Sari Bastaman, di mana objek digambarkan seolah-olah sangat nyata.
Yang terpenting dari semua aliran ini adalah semangat untuk terus berkarya. Sayangnya, di era sekarang, banyak orang lebih memilih menggunakan teknologi seperti mesin cetak (print) untuk menghasilkan gambar, sehingga karya yang dihasilkan pun tidak lagi orisinal.
PERALATAN DAN TAHAPAN MELUKIS
Peralatan utama dalam seni lukis ini meliputi media kanvas, kuas, dan cat minyak. Ada beberapa merek cat yang umum digunakan, mulai dari Mars, Greko, hingga merek-merek dengan kualitas lebih tinggi. Di antara pilihan tersebut, cat Greko dipilih karena dianggap mampu menghasilkan gambar yang benar-benar "hidup" warnanya luwes dan tidak kaku, berbeda dengan cat besi atau sejenisnya yang cenderung menghasilkan tampilan kaku.
Sebelum digoreskan ke kanvas, cat perlu dicampur terlebih dahulu menggunakan minyak, dengan media pencampuran berupa triplek, palet, atau mika. Dari ketiganya, triplek dianggap sebagai media pencampuran terbaik.
KENDALA YANG JUSTRU MENJADI BERKAH
Menariknya, bagi mereka yang telah menjadikan melukis sebagai hobi sekaligus profesi, hampir tidak ada kendala berarti. Ketika seorang pelukis sudah mencapai tahap profesional, proses melukis menjadi semudah mencurahkan isi hati ke atas kanvas yang menjadikan imajinasi berubah menjadi realita, tak ubahnya seorang penyanyi yang mengarang lagunya sendiri.
Namun bagi pemula, proses belajar tetap membutuhkan banyak latihan meniru objek yang sudah ada. Barulah ketika sudah mahir, seorang pelukis cukup membayangkan sebuah adegan di angan-angan, lalu tinggal menuangkannya ke kanvas. Karena itu, pelukis dituntut untuk banyak mengamati objek-objek di sekitarnya sebagai referensi karya.
Melalui Sanggar Seni Karya Asli di Desa Tanjungsari, Pak Very berharap seni lukis tradisional tidak lekang oleh waktu. Pesan yang paling mendasar dari beliau kepada generasi muda adalah agar jangan sampai warisan nenek moyang ini punah begitu saja. Sudah menjadi tanggung jawab bersama untuk melestarikan dan membangkitkan kembali warisan budaya leluhur, termasuk seni lukis tradisional yang telah diwariskan turun-temurun ini.