by 7
Wayang merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang telah hidup selama berabad-abad. Di balik kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana, wayang menyimpan nilai-nilai kehidupan seperti kejujuran, keberanian, kebijaksanaan, serta penghormatan terhadap sesama. Namun, di tengah perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup masyarakat, seni pedalangan menghadapi tantangan besar, terutama dalam hal regenerasi.
Andika Yoga Saputra, lahir pada tanggal 7 Juli 2006, ketertarikannya terhadap seni pedalangan telah tumbuh sejak usia dini, yaitu ketika masih duduk di kelas III Sekolah Dasar. Dalang muda yang kerap dipanggil Mas Andika ini belajar pedalangan dengan menempuh kursus hingga kelas IX SMP. Setelah pelatihnya tidak lagi dapat mengajar karena kondisi kesehatan, Mas Andika melanjutkan proses pembelajaran dengan bergabung di sanggar-sanggar lain.
Minat Mas Andika terhadap dunia pedalangan juga dipengaruhi oleh faktor keluarga. Mas Andika menjelaskan bahwa garis keturunan keluarganya memiliki latar belakang sebagai dalang ruwat (dalang yang secara khusus memimpin ritual ruwatan, yaitu upacara adat Jawa untuk menolak bala atau membebaskan seseorang dari kesialan, biasanya dengan lakon Murwakala), yaitu berasal dari Mbah Buyut. Faktor tersebut menjadi salah satu motivasi yang memperkuat keinginannya untuk terus melestarikan seni pedalangan. Selain itu, dukungan keluarga dan lingkungan sekitar turut memberikan dorongan sehingga Mas Andika tetap aktif menekuni bidang tersebut.
Dalam upaya mengembangkan kemampuan, Mas Andika bergabung dengan Paguyuban Pakudatu yang merupakan wadah bagi dalang muda se-Kabupaten Tulungagung. Keikutsertaan di paguyuban tersebut baru berlangsung sekitar dua tahun terakhir. Menurut Mas Andika, setiap anggota tidak hanya dilatih menjadi dalang, tetapi juga diwajibkan memiliki kemampuan memainkan gamelan sehingga mampu mendukung pertunjukan secara menyeluruh. Dalam proses belajarnya, Mas Andika mengaku bahwa ia menghadapi berbagai tantangan. Salah satu kendala yang sering ditemui adalah adanya anggapan dari sebagian masyarakat bahwa dalang muda belum layak memperoleh panggung dan sebaiknya pertunjukan dibawakan oleh dalang yang lebih senior. Namun demikian, Mas Andika memandang bahwa perkembangan zaman menuntut adanya inovasi dalam pertunjukan wayang agar tetap diminati masyarakat. Oleh karena itu, dalang muda perlu menyesuaikan pertunjukan dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi.
Pengalaman pentas pertama juga menjadi bagian penting dalam perjalanan Mas Andika sebagai dalang. Mas Andika mengungkapkan bahwa pada awal pertunjukan masih merasakan rasa gugup dan canggung. Akan tetapi, kendala tersebut dapat diatasi melalui persiapan yang matang, seperti mempelajari alur cerita sebelum tampil dan menyiapkan catatan sebagai pedoman selama pementasan.
Dalam proses pembelajaran di paguyuban, Mas Andika menjelaskan bahwa anggota memperoleh materi mengenai teknik vokal, penggunaan intonasi, serta pengenalan karakter tokoh dalam pewayangan. Meskipun tidak menggunakan teknik pernapasan khusus, setiap tokoh memiliki perbedaan nada suara sehingga kemampuan mengolah vokal tetap menjadi keterampilan yang harus dikuasai. Selain itu, pembelajaran juga mencakup bahasa Jawa, khususnya bahasa Jawa Kawi yang digunakan dalam suluk, janturan, maupun dialog pedalangan.
Salah satu contoh penggunaan bahasa Jawa Kawi yang ditampilkan oleh Andika adalah penggalan janturan berbunyi, "Wauta kucap nalika samana, Putra Sang Hyang Surya nenggih Sang Raden Suryatmaja, sigra teteki mawas ingasamo nutupi babahan hawa sanga, ngukuwulu petuning bocro irawana sekawan kang binekas sajuga kang sinedikara, jroning kalbu opo ta kang ginanta, nenggih genya kepengin dadi satriya kang sondang." Mas Andika menjelaskan bahwa bahasa tersebut merupakan bahasa Jawa Kawi yang dipelajari selama mengikuti pelatihan di sanggar dan menjadi salah satu ciri khas dalam pertunjukan wayang.
Mas Andika turut menjelaskan bahwa pelestarian seni pedalangan di Kabupaten Tulungagung menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Hal ini terlihat dari meningkatnya jumlah anggota paguyuban, yaitu dari sekitar 25 orang, kemudian bertambah menjadi 44 orang, hingga mencapai sekitar 50 orang. Anggota paguyuban tidak hanya berasal dari kalangan remaja, tetapi juga terdapat peserta yang masih duduk di kelas I Sekolah Dasar. Hal ini menunjukkan bahwa minat generasi muda terhadap seni pedalangan masih cukup tinggi sehingga peluang regenerasi dalang tetap terbuka.
Mas Andika juga menjelaskan bahwa kegiatan pelatihan tidak membebankan biaya kepada peserta karena telah memperoleh dukungan dari Dinas Kebudayaan. Dukungan tersebut menjadi salah satu faktor yang mempermudah masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengikuti pembelajaran pedalangan dan berpartisipasi dalam pelestarian budaya daerah.
Lebih lanjut, Mas Andika menyampaikan harapan agar generasi muda semakin mencintai seni dan budaya, khususnya seni pedalangan, sebagai bagian dari warisan budaya bangsa. Selain itu, pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama karena seni pedalangan merupakan peninggalan leluhur yang memiliki nilai luhur dan menjadi identitas budaya yang perlu dijaga keberlangsungannya.