by 7
Gemuruh tabuhan kendang menggema di sepanjang jalan desa, mengiringi langkah-langkah para penari yang bergerak serempak dengan penuh semangat. Irama yang menghentak berpadu dengan bunyi gong dan terompet tradisional, menciptakan suasana yang hidup sekaligus membangkitkan antusiasme masyarakat. Pemandangan tersebut merupakan ciri khas pentas Reog Kendang, salah satu kesenian tradisional yang berasal dari Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Berbeda dengan Reog Ponorogo yang identik dengan topeng singa dan dadak merak, Reog Kendang menonjolkan permainan kendang besar yang dipanggul oleh para penari sambil menampilkan gerakan tari yang enerjik dan kompak.
Salah satu kelompok yang aktif menjaga kelestarian kesenian ini adalah Paguyuban Reog Kendang Permata Tanjung, yang berlokasi di Desa Tanjungsari, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung. Paguyuban ini digawangi oleh Bapak Budi Santoso, yang menjadi narasumber dalam penulisan esai ini. Melalui penuturannya, terungkap berbagai catatan penting mengenai sejarah, unsur pertunjukan, jalannya pentas, hingga tantangan yang dihadapi Reog Kendang di tengah arus modernisasi.
Di tengah arus modernisasi dan perubahan pola hiburan masyarakat, keberadaan Reog Kendang menjadi semakin relevan untuk diperbincangkan. Kesenian ini masih sering ditampilkan dalam berbagai acara adat, festival budaya, peringatan hari jadi daerah, serta karnaval budaya. Namun, di balik kemeriahan pertunjukannya, terdapat tantangan besar terkait regenerasi pemain, pelestarian teknik tabuhan tradisional, dan penguatan identitas budaya lokal. Reog Kendang tidak hanya layak dipandang sebagai hiburan rakyat, tetapi juga sebagai warisan budaya yang memiliki nilai sejarah, sosial, dan pendidikan.
ASAL-USUL REOG KENDANG
Reog Kendang merupakan kesenian tradisional yang berkembang di Kabupaten Tulungagung dan telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat. Berdasarkan penuturan Bapak Budi Santoso selaku pengelola Paguyuban Reog Kendang Permata Tanjung, kesenian ini memiliki keterkaitan dengan cerita rakyat mengenai perjalanan prajurit yang mengiringi rombongan menuju wilayah Kediri. Dalam perjalanan tersebut, para prajurit membawa kendang sebagai alat komunikasi, penanda semangat, sekaligus pengiring gerak langkah mereka. Dari tradisi inilah kemudian berkembang bentuk pertunjukan yang memadukan tabuhan kendang dengan gerakan tari.
Perkembangan Reog Kendang menjadikannya salah satu identitas budaya masyarakat Tulungagung. Meskipun sama-sama menggunakan nama "reog", kesenian ini memiliki karakter yang berbeda dengan Reog Ponorogo. Reog Ponorogo berpusat pada tokoh Singa Barong dan penggunaan dadak merak sebagai ikon utama pertunjukan, sedangkan Reog Kendang lebih menekankan permainan kendang besar, kekompakan para penari, dan koreografi kelompok yang dinamis. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa Reog Kendang memiliki kekhasan tersendiri yang perlu diperkenalkan secara lebih luas agar tidak tenggelam oleh popularitas Reog Ponorogo.
PAGUYUBAN REOG KENDANG PERMATA TANJUNG
Gambar 2 Penari Paguyuban Reog Kendang Permata Tanjung
Di Desa Tanjungsari, Kecamatan Boyolangu, upaya pelestarian Reog Kendang diwadahi oleh Paguyuban Reog Kendang Permata Tanjung yang dipimpin oleh Bapak Budi Santoso. Paguyuban ini menjadi salah satu kelompok seni yang secara aktif berlatih, tampil dalam berbagai acara desa maupun kabupaten, serta membina generasi muda untuk mengenal dan mencintai kesenian Reog Kendang. Keberadaan paguyuban semacam ini menjadi bukti bahwa di tengah tantangan zaman, masih ada semangat masyarakat akar rumput untuk menjaga warisan budaya leluhur agar tetap hidup dan berkembang.
UNSUR-UNSUR PERTUNJUKAN
Keunikan Reog Kendang terletak pada perpaduan antara musik, tari, dan kekuatan fisik para pemain. Alat musik utama yang digunakan adalah kendang yang digendong atau dipanggul oleh para penari. Kendang tersebut dimainkan sambil menari sehingga membutuhkan keterampilan, keseimbangan, dan stamina yang baik. Selain kendang, pertunjukan juga diiringi oleh alat musik lain yang membentuk struktur musikal yang khas. Irama yang dihasilkan tidak hanya berfungsi sebagai pengiring, tetapi juga sebagai penanda perubahan gerakan, formasi, dan dinamika pertunjukan.
Dari segi busana, para penari mengenakan pakaian tradisional dengan warna-warna mencolok seperti merah, hitam, kuning, dan hijau. Kostum tersebut dilengkapi dengan aksesori yang memperkuat karakter visual pertunjukan. Keseragaman kostum menjadi simbol kekompakan kelompok sekaligus memperlihatkan identitas budaya Tulungagung.
Gerakan tari dalam Reog Kendang bersifat energik, ritmis, dan penuh tenaga. Para penari menampilkan hentakan kaki, ayunan tubuh, putaran formasi, serta variasi tabuhan kendang yang dilakukan secara serempak. Koreografi tersebut menonjolkan kekuatan fisik, ketepatan tempo, dan koordinasi antarpemain. Dalam banyak pertunjukan, termasuk yang ditampilkan oleh Paguyuban Reog Kendang Permata Tanjung, Reog Kendang juga ditampilkan dalam bentuk arak-arakan, sehingga para pemain bergerak dari satu tempat ke tempat lain sambil terus memainkan kendang dan mempertahankan formasi.
JALANNYA PENTAS
Pentas Reog Kendang umumnya diawali dengan tahap persiapan yang dilakukan oleh seluruh anggota kelompok. Sebelum pertunjukan dimulai, para pemain melakukan pengecekan alat musik, penggunaan kostum, serta koordinasi mengenai urutan penampilan dan formasi yang akan ditampilkan. Pada beberapa kesempatan, terutama dalam acara adat seperti bersih desa, pembukaan pertunjukan diawali dengan doa bersama sebagai bentuk penghormatan kepada Tuhan Yang Maha Esa, leluhur, dan tokoh-tokoh yang dihormati dalam tradisi setempat.
Setelah pembukaan, tabuhan kendang mulai dimainkan secara perlahan sebagai penanda dimulainya pertunjukan. Irama kemudian berkembang menjadi lebih cepat dan dinamis, diikuti oleh masuknya terompet, kenong, dan gong. Para penari memasuki arena secara berurutan dan membentuk pola barisan tertentu. Sepanjang pertunjukan, mereka menampilkan berbagai variasi gerakan yang semakin intens hingga mencapai puncak atraksi, di mana tempo tabuhan menjadi lebih cepat dan formasi berubah secara dinamis.
Dalam keseluruhan pertunjukan, pemimpin memiliki peran yang sangat penting. Di Paguyuban Reog Kendang Permata Tanjung, peran tersebut dipegang langsung oleh Bapak Budi Santoso, yang bertugas mengatur ritme, memberikan aba-aba perubahan gerakan, menjaga tempo permainan musik, serta memastikan seluruh pemain tetap berada dalam formasi yang tepat. Kekompakan antara pemimpin, penabuh, dan penari menjadi kunci utama keberhasilan pentas Reog Kendang.
FUNGSI DAN MAKNA SOSIAL
Reog Kendang memiliki fungsi sosial yang sangat kuat dalam kehidupan masyarakat Tulungagung. Kesenian ini mampu menghadirkan kegembiraan sekaligus mempererat hubungan masyarakat. Ketika Reog Kendang dipentaskan dalam acara desa, festival, atau karnaval budaya, masyarakat dari berbagai kalangan berkumpul untuk menyaksikan pertunjukan, berinteraksi, dan memperkuat rasa kebersamaan.
Selain sebagai hiburan, Reog Kendang juga berfungsi sebagai media edukasi dan sarana pewarisan nilai-nilai budaya kepada generasi muda. Melalui pertunjukan yang digelar kelompok-kelompok seperti Paguyuban Reog Kendang Permata Tanjung, nilai-nilai tradisi, sejarah, dan filosofi lokal diwariskan kepada generasi muda. Kesenian ini sering menjadi bagian penting dalam perayaan, sehingga keberadaannya memiliki keterkaitan erat dengan berbagai ritus sosial masyarakat.
Lebih jauh lagi, Reog Kendang juga menyimbolkan kebersamaan. Para pemain harus mampu bekerja sama, menjaga tempo, dan saling mendukung agar pertunjukan berlangsung harmonis. Nilai-nilai tersebut menjadikan Reog Kendang tidak hanya sebagai tontonan, tetapi juga sebagai tuntunan dalam membangun solidaritas sosial.
TANTANGAN PELESTARIAN
Di balik eksistensinya, Reog Kendang menghadapi berbagai tantangan pelestarian. Salah satu persoalan utama, sebagaimana disampaikan oleh Bapak Budi Santoso, adalah kesulitan untuk mempelajari teknik menabuh kendang secara tradisional. Banyak anak muda yang lebih tertarik pada hiburan digital dan budaya populer sehingga proses regenerasi pemain di Paguyuban Reog Kendang Permata Tanjung maupun kelompok sejenis berjalan lebih lambat.
Keterbatasan jumlah pelatih dan kelompok seni aktif juga menjadi kendala tersendiri. Tidak semua daerah memiliki pembinaan yang berkelanjutan, sementara kemampuan memainkan kendang dan memahami koreografi Reog Kendang membutuhkan latihan yang intensif. Di sisi lain, kesenian ini juga menghadapi persaingan dengan hiburan modern yang lebih praktis, cepat, dan mudah diakses oleh masyarakat.
Tantangan lain adalah kurangnya dokumentasi, penelitian, dan promosi mengenai Reog Kendang. Dibandingkan Reog Ponorogo yang telah dikenal secara nasional bahkan internasional, Reog Kendang masih relatif kurang mendapat perhatian. Akibatnya, banyak masyarakat di luar Tulungagung yang belum memahami perbedaan maupun keunikan kesenian ini.
PENTINGNYA PENGUATAN IDENTITAS REOG KENDANG
Reog Kendang merupakan identitas budaya lokal yang perlu diperkenalkan secara lebih luas. Upaya pelestarian tidak cukup hanya melalui pementasan, tetapi juga melalui pelatihan teknik menabuh kendang, pengenalan pertunjukan reog kendang di sekolah, serta pembentukan sanggar-sanggar dan paguyuban seni seperti Paguyuban Reog Kendang Permata Tanjung yang aktif membina generasi muda di berbagai wilayah.
Dukungan pemerintah daerah menjadi faktor yang sangat penting dalam menjaga keberlanjutan kesenian ini. Penyelenggaraan pementasan reog kendang dapat menjadi strategi efektif untuk meningkatkan apresiasi masyarakat. Selain itu, Reog Kendang memiliki potensi keunikan tersendiri, yaitu dengan memadukan musik, tari, arak-arakan, dan partisipasi masyarakat dalam satu pertunjukan yang dinamis.
Pentas Reog Kendang merupakan perwujudan kekayaan budaya Tulungagung yang memadukan gemuruh tabuhan kendang, gerakan tari yang enerjik, dan semangat kebersamaan masyarakat. Kesenian ini bukan sekadar hiburan tradisional, melainkan juga simbol identitas, kekompakan, serta warisan budaya yang mengandung nilai-nilai luhur. Di tengah berbagai tantangan modernisasi, keberlangsungan Reog Kendang bergantung pada keterlibatan generasi muda, dukungan pemerintah, dan apresiasi masyarakat terhadap budaya lokal.
Perjuangan Bapak Budi Santoso beserta Paguyuban Reog Kendang Permata Tanjung di Desa Tanjungsari menjadi contoh nyata bagaimana kesenian rakyat dapat terus dijaga di tengah gempuran zaman. Menyaksikan dan mendukung pentas Reog Kendang berarti ikut menjaga denyut kehidupan budaya Nusantara. Gemuruh tabuhan kendang yang menggema hari ini harus terus diwariskan kepada generasi mendatang, agar semangat rakyat yang terkandung di dalamnya tetap hidup melintasi zaman.