by 7
Desa Tanjungsari, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, dikenal dengan karakteristik masyarakatnya yang mayoritas bergerak di bidang pendidikan. Di tengah desa yang dekat dengan kehidupan yang modern ini, keberadaan Paguyuban Kesenian Jaranan "Turonggo Sari Putro" menjadi oasis kebudayaan yang terus mekar. Melalui pembinaan generasi muda tanpa dipungut biaya, paguyuban ini secara konsisten menghidupkan ruang kebudayaan lokal di tengah atmosfer sosial yang religius dan akademis.
SOSIOLOGI LINGKUNGAN TANJUNGSARI DAN SOSOK PAK RIO
Menurut pemaparan Pak Rio, Desa Tanjungsari memiliki atmosfer sosial yang cukup berbeda dibandingkan kawasan lainnya di Tulungagung. Dominasi profesi penduduk di sektor pendidikan membentuk ritme keseharian warga yang lebih tertutup. Interaksi harian antarwarga tidak se-terbuka lingkungan lain. Pak Rio sendiri sejatinya merupakan seorang pendatang yang menjadi menantu warga asli Tanjungsari. Memiliki latar belakang dan rekam jejak panjang di dunia kesenian, khususnya seni ketoprak dan tari Gambyong, Pak Rio tergerak untuk menghidupkan ruang kebudayaan di wilayah tersebut.
Beliau menegaskan bahwa tempat yang dikelolanya bukanlah sanggar besar formal sebagaimana yang sering dibayangkan orang, melainkan sebuah wadah pemberdayaan yang tulus bagi anak-anak lokal yang memiliki bakat dan minat seni. "Di sini bukan sanggar besar. Tempat ini adalah wadah pemberdayaan anak-anak yang memiliki bakat dan minat seni. Kalau di sanggar umum ada biayanya, seperti uang SPP dan biaya ujian, di sini tidak dipungut biaya sama sekali. Kami terbuka dan welcome bagi siapa saja yang mau datang dan belajar kesenian," ungkap Pak Rio dalam wawancara bersama kami.
REKAM JEJAK DAN SILSILAH PAGUYUBAN TURONGGO SARI PUTRO
Paguyuban Seni Jaranan Turonggo Sari Putro memiliki garis silsilah turun-temurun yang sangat kuat. Tradisi kesenian ini awalnya didirikan dan diberdayakan oleh kakek mertua Pak Rio, lalu berlanjut ke generasi paman mertua beliau. Di lingkungan ini, pernah hidup seorang maestro seni ternama era 1970-an bernama Mbah Sahri (Mbah Sahrir), yang namanya sangat tersohor di Tulungagung sebagai pelaku seni senior. Dari Mbah Sahri, estafet kepemimpinan diturunkan ke bapak mertua, hingga kini dipercayakan penuh kepada Pak Rio sebagai menantu untuk melatih, mengelola, serta memegang kendali penuh pada setiap agenda pertunjukan.
Saat ini, Turonggo Sari Putro didukung oleh sekitar 40 anggota, yang terdiri dari 16 penari dan 12 pengrawit (pemain gamelan). Seluruh proses latihan dilaksanakan di depan rumah Pak Rio dengan fasilitas alat kesenian dan kerawitan yang disediakan langsung oleh beliau. Dahulu, latihan rutin digelar setiap malam Minggu. Namun, karena saat ini Pak Rio berdomisili di Puncanglaban, jadwal latihan disesuaikan menjadi sistem preparasi intensif menjelang adanya agenda atau event pertunjukan tertentu.
SEJARAH, FILOSOFI, DAN RAGAM KESENIAN JARANAN
Gambar 2. CR by Paguyuban Turonggo Sari Putro
Berdasarkan penuturan sejarah dari para tetua, kesenian jaranan di Tulungagung dan Kediri memiliki akar sejarah yang bertaut rapat. Jaranan diyakini berawal dari wilayah Kediri yang mengisahkan tentang rombongan pengawal kerajaan yang hendak mendampingi Prabu Klono Sewandono menuju Ponorogo. Dalam perjalanannya, rombongan tersebut singgah di Tulungagung, yang kemudian menjadi cikal bakal berkembangnya jaranan di wilayah tersebut. Oleh karena itu, Kediri menjadi kiblat utama dari filosofi jaranan itu sendiri.
Di Wilayah Se-Karesidenan, Terdapat Beberapa Klasifikasi Jenis Jaranan dengan Karakteristik Unik Masing-Masing:
Jaranan Senterewe: Jenis jaranan yang paling berkembang, populer, dan mewah di Tulungagung. Kesenian ini membutuhkan panggung besar (ukuran minimal 8x10 meter untuk ruang joget, ditambah 2 meter area belakang, serta gapura di sisi kanan dan kiri) lengkap dengan tata panggung yang megah. Nama Senterewe berasal dari gabungan kata Sente dan Rawe (tumbuhan yang menyengat/gatal), menggambarkan karakter tarian yang sangat energik, cepat, dinamis, dan memiliki ragam tari yang kaya, mematahkan stigma bahwa gerakan jaranan itu monoton. Dari segi tata rias dan busana pun dinilai sangat bagus dan berkelas.
Jaranan Pegon (Kedirinan): Berukuran lebih besar dengan riasan menyerupai tokoh wayang orang (menggunakan mahkota/kupluk mirip Gatotkaca dan badong uncal). Karakteristik utamanya adalah penari tidak memegang pecut maupun kepang tari biasa, melainkan murni menari, dengan ukuran jaranan kecil menyerupai reog Ponorogo.
Jaranan Jawa (Jowo): Umumnya dimainkan oleh penari paruh baya. Tampilannya sangat bersahaja tanpa rias rumit (hanya gincu dan alis), serta sering kali tampil tanpa baju (ote-ote) atau hanya menggunakan rompi, celana komprang, dan kain jarik.
Jaranan Turonggo Yakso: Jenis jaranan yang menggunakan kepang berbentuk kepala raksasa, dengan karakteristik gerakan tari yang cenderung keras dan tegas.
ALUR PERTUNJUKAN FRAGMEN DAN NILAI KEROHANIAN
Pertunjukan Jaranan Senterewe versi Turonggo Sari Putro disusun secara rapi dan naratif, menggabungkan seni tari, musik, dan fragmen lakon wayang orang:
Ritual Suguh / Kulo Nuwun: Sebelum instrumen musik dibunyikan, dilakukan prosesi pembakaran dupa atau menyan. Bagi masyarakat awam, ritual ini kerap diidentikkan dengan hal mistis atau 'memberi makan demit'. Namun secara spiritual, ritual ini adalah ungkapan penghormatan kepada leluhur dan permohonan izin (kulo nuwun) agar pergelaran berjalan lancar dan aman.
Lagu Mars & Babak Pertama (Fragmen Wayang Orang): Setelah ritual, gamelan mulai dibunyikan dengan membawakan nada lagu Mars Jaranan sebagai pembuka. Masuk ke babak pertama yang menjadi ciri khas Turonggo Sari Putro, yakni penampilan fragmen Wayang Orang yang mengisahkan romansa Panji Asmoro Bangun dan Dewi Sekar Taji. Cerita diawali dari Panji Asmoro Bangun yang gagal move on hingga nglayung (melamun), lalu bertapa meminta petunjuk Sang Hyang Widi untuk mencari Dewi Sekar Taji. Di sisi lain, Dewi Durga yang mengidamkan Raden Panji mengubah wujudnya menjadi Dewi Sekar Taji demi menggoda dan menggagalkan pertapaannya. Beruntung, Dewa Narada datang memberikan bantuan dan menyadarkan Raden Panji dari ilusi tersebut. Raden Panji yang kembali nglayung kemudian mengutus para patihnya untuk mengumpulkan bala tentara dan menyiapkan pasukan kuda sebanyak 21 buah.
Puncak Pertempuran, Rampokan, dan Perang Barong: Setelah Dewi Sekar Taji berhasil ditemukan dan dibawa pulang, dalam perjalanan rombongan dihadang oleh seekor naga atau ular besar yang memicu pertempuran sengit. Pertunjukan dilanjutkan dengan babak jaranan kecil (kombinasi penari perempuan dan laki-laki) serta adegan Rampokan Celeng Srenggi. Celeng Srenggi yang menghadang pasukan kuda akhirnya berhasil dikalahkan. Suasana semakin memuncak saat datang naga yang lebih besar, memicu terjadinya Perang Barong yang spektakuler sebelum akhirnya ditutup dengan lagu penutup.
HARAPAN UNTUK KELESTARIAN KEBUDAYAAN BANGSA
Sebagai seorang pendidik yang juga aktif mengajar tari Gambyong di salah satu SMP, Pak Rio menekankan bahwa kesenian adalah kompas jati diri bangsa yang wajib dijaga oleh generasi muda (Gen Z dan generasi penerusnya). Beliau mengingatkan agar masyarakat tidak bersikap acuh tak acuh, agar kebudayaan lokal tidak diklaim oleh negara lain.
Dalam wawancaranya, Pak Rio berpesan, "Apapun profesimu di masa depan baik mahasiswa, pengusaha sukses, maupun guru jangan pernah malu memiliki dan mengakui budaya sendiri. Semua kesenian itu indah, yang merusak hanyalah oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Mari kita ulik sejarahnya, lestarikan budayanya, karena tidak ada yang tidak mungkin jika kita mau berusaha dan berdoa."