by Admin
Seni Wayang – Dalang Muda Andika Yoga Saputra

Andika Yoga Saputra adalah seorang dalang muda dari Tulungagung-Tanjungsari yang aktif dalam pelestarian budaya pewayangan. Ia tergabung dalam komunitas Pakumpulan Dalang Anom Tulungagung (PAKUDHATU), sebuah wadah kreatif bagi generasi muda yang ingin belajar dan mendalami seni perdalangan, ia sekarang sedang menempuh pendidikan tingginya di UNS (Universitas Sebelas Maret) Surakarta Jurusan Pendidikan Bahasa Jawa, sebuah pilihan studi yang selaras dengan dedikasinya dalam menjaga warisan budaya Jawa.
Minat Andika pada seni wayang sendiri sudah tumbuh sejak usia dini. Darah seni yang diwarisi neneknya mengalir deras di keluarganya, sang nenek yang dulunya juga seorang penggiat seni membuat Andika sudah terbiasa mengikuti pertunjukkan seni sejak ia kecil. Ia sudah mulai mengikuti pelatihan seni wayang sejak kelas 3 SD, ia mulai mengikuti pelatihan di sanggar seni lokal hingga kelas 9 SMP, kemudian ia melanjutkan proses belajar secara mandiri dan bergabung dengan PAKUDHATU pada tahun 2024. Dorongan dari keluarga, tetangga, dan komunitas lah yang membuatnya semakin yakin untuk menggeluti dunia dalang.
Lakon favoritnya hingga saat ini adalah lakon Wahyu Purbaningrat, sebuah cerita pewayangan yang kuat dengan nilai kepemimpinan dan perjuangan. Sementara itu, tokoh pewayangan yang paling ia kagumi adalah Prabu Kresna, sang raja bijak yang dikenal karena kecerdasannya, serta Prabu Kunthadewa, tokoh yang melambangkan ketulusan dan keteguhan hati. Kedua tokoh ini menjadi panutan baginya, tidak hanya dalam pertunjukan, tetapi juga dalam prinsip hidup.
Bagi Andika, seni pewayangan bukan sekadar hiburan atau tradisi lama yang harus dikenang, tetapi merupakan identitas budaya yang harus terus dihidupkan. Ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara budaya, agama, dan negara, dan meyakini bahwa ketiganya bisa berjalan beriringan serta saling memperkuat. Dalam wawancaranya, Andika menyampaikan pesan “Kita orang Jawa jangan sampai meninggalkan budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur, khususnya di dunia pewayangan.” Ia percaya bahwa budaya Jawa harus tetap hidup, meskipun zaman berubah.